Filed under: 2006
I
Di kamar ini ada rindu yang meracau
Dari suara hati yang parau
Ketika rinai hujan mengalun
Bersama petir, menjadi harmoni
2:30 ada igau lembut
Di antara dengkur dan helaan-helaan nafas
Panjang
Juga angin yang menggiring dingin
II
Dingin itu yang mempertemukan kita
Ketika bintang-bintang berserikat,sembunyi
Bulanpun pucat menutup diri
Kita berdua sepakat, di sini
Diam tanpa imaji
Juga naluri kita simpan dalam peti
Hanya nurani, biarkan berlari, hingga lepas
Sendi-sendi lutut kita
Ciputat, 4 Juni 2006
Filed under: Poems
Kutitip lewat waktu
tanpa puisi hanya kata-kata basi;bisu
Senyap lalu…..
kudengar kabar dari denyutan nadi
sunyi[diam]berlari, siapa peduli:Melati kupetik dari pekarangan pak guru;
Ciputat, 15 Mei 2006
Filed under: Poems
-Untuk Hj. Ai-
Dapatkah kau tunjukan sebuah kota
Yang gerbangnya terkunci
Norma dari setiap denyut nadi
Malu menghias tiap pintu
Santun terpancar dari segenap penghuninya
Tapi di mana?—
Kota Salama ada di ujung
Dari pertigaan ambisi belok kanan
Lurus kearah rasio, sampai kau temui mimpi-mimpi
Kota Salama ada di sana
Di antara ego dan imaji
Marhaban bi Madinatissalama
“Akhirnya aku tiba”
Nurani menghadang
Aku terlarang
Kota Salama bukan untukku
Ciputat, 27 April 2006
Filed under: Poems
Ketulusan bukan tanpa tujuan
Tujuanlah yang menghadirkan ketulusan
Rasa suka pasti beserta duka
Karna duka yang mengadakan suka
Tujuanku adalah suka maka aku tulus dalam duka
Manusia hanyalah makhluk
Mengenal segala dalam bentuk
Manusiawi bila mengharap cinta
Terwujud dalam rupa
Ciputat, Maret 2006
Filed under: Poems
Biarkan aku mengenal tanpa dikenal, karena
Sebuah nama hanya menjadi kerangkeng dari
kebebasan
dengan nama seseorang menjadi terkurung
dalam wajah kecil dan terbatas
Cukuplah aku dikenal sebagai manusia
walau apapun sebutannya
Maret, 06